SELAMAT DATANG DI BLOG KAMUDA MORENG

Jumat, 07 Januari 2011

Rumah Betang dan Nilai Kerukunan yang Mulai Tergantikan

Quantcast
Rumah Betang Lambang Kerukunan Masyarakat Dayak
Selain berupa penanda fisik berupa daun telinga yang panjang dan
banyaknya tato yang tergambar pada tubuh mereka, ada satu hal yang
menjadi kekhasan warga Dayak : rumah Betang/rumah Panjang. Rumah panjang
ini setara dengan nilai kerukunan yang diusung warga Dayak. Para orang
tua Dayak senantiasa menekankan pentingnya kebudayaan Dayak yang berupa
dikap mau berbagi dan hidup rukun dengan para anggota rumah panjang.
Hidup rukun seperti sudah mendarah-daging dalam kehidupan warga Dayak
dahulu. Kerukunan warga Dayak ini seringkali menimbulkan kekaguman dari
warga non-Dayak. Rumah panjang pun kemudian dipandang sebagai sebuah
komponen penting dalam menjaga kerukunan dan hubungan-hubungan yang
lebih akrab. Rumah Betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang
terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai
yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku.
Dayak, dimana sungai merupakan jalur transportasi utama bagi suku
Dayak untuk melakukan berbagai mobilitas kehidupan sehari-hari seperti
pergi bekerja ke ladang dimana ladang suku Dayak biasanya jauh dari
pemukiman penduduk, atau melakukan aktifitas perdagangan (jaman dulu
suku Dayak biasanya berdagang dengan menggunakan sistem barter yaitu
dengan saling menukarkan hasil ladang, kebun maupun ternak). 1.
Bentuk dan besar rumah Betang berbeda-beda di setiap tempat. Ada yang
panjangnya mencapai 150 meter dan lebarnya mencapai 30 meter. Rumah
Betang umumnya dibangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga
sampai lima meter di atas tanah. Ketinggian Rumah Betang ini
diperkirakan untuk menghindari dan mengantisipasi ancaman banjir yang
sering menimpa daerah-daerah hulu sungai di Kalimantan. Banyaknya Rumah
Betang di suatu pemukiman bisa lebih dari satu, tergantung banyaknya
anggota komunitas di hunian tersebut. Setiap keluarga menempati bilik
yang disekat-sekat dari Rumah Betang yang besar tersebut.
Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah
tangga dan masyarakat diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan
dalam hukum adat. Nilai utama yang  menonjol dalam kehidupan di rumah
Betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para warga yang
menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. 2.
Dari sini kita mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai
suatu perbedaan, mereka menghargai perbedaan etnik, agama ataupun latar
belakang sosial. Budaya Rumah Betang adalah budaya yang menjunjung nilai
kebersamaan, persamaan hak, saling menghormati, dan tenggang rasa.
Rasa kebersamaan dan persaudaraan tampak setiap ada permasalahan yang
menimpa salah satu penghuni. Jika salah satu anggota keluarga ada yang
meninggal dunia maka masa berkabung mutlak diberlakukan selama satu
minggu bagi semua penghuni dengan tidak menggunakan perhiasan, tidak
berisik, tidak minum tuak dan dilarang menghidupkan peralatan
elektronik. 3.
Kini, rumah betang yang menjadi hunian orang Dayak berangsur-angsur
menghilang di Kalimantan. Kalaupun masih bisa ditemukan penghuninya
tidak lagi menjadikannya sebagai rumah utama, tempat keluarga bernaung,
tumbuh dan berbagi cerita bersama komunitas. Rumah Betang tinggal
menjadi kenangan bagi sebagian besar orang Dayak. Dibeberapa tempat yang
terpencar, rumah Betang dipertahankan sebagai tempat untuk para
wisatawan.
Generasi muda dari orang Dayak sekarang tidak lagi hidup dan
dibesarkan di rumah Betang. Kini Rumah Betang konon hanya bisa ditemukan
di pelosok, pedalaman Kalimantan tanpa mengetahui persis lokasinya.
Pernyataan tersebut tentu saja mengisyaratkan bahwa rumah Betang hanya
tinggal cerita dari tradisi yang berasosiasi dengan keterbelakangan dan
ketertinggalan dari gaya hidup modern. Kini warga desa lebih banyak
tinggal di rumah-rumah individual. Sebagian kalangan tua berpendapat
bahwa tinggal di rumah-rumah individual telah membuat warga menjadi
terlalu individualistik, sesuatu yang sebenarnya bukan ciri masyarakat
Dayak.
Mengenai alasan mengapa warga banyak yang lebih memilih tinggal di
rumah-rumah individual, warga mengatakan rumah individual jelas lebih
baik karena lebih pribadi dan lebih bersih. Pak Din, salah satu warga
yang lebih memilih untuk tinggal di rumah individual berpendapat,
baginya ke-Dayak-an tidak hanya ditentukan oleh sebuah kehidupan yang
rukun tetapi juga oleh hal-hal yang „modern‟, termasuk pendidikan dan
gaya hidup sehat.
Memang, pendapat Pak Din tersebut ada benarnya. Akan tetapi, bukankah
lebih baik kebiasaan tinggal di suatu rumah bersama-sama tetap
dipelihara? Nilai tinggal bersama sesama warga Dayak adalah nilai yang
baik karena tinggal bersama juga menunjukkan keinginan warga untuk hidup
rukun dan tidak menunjukkan ketamakan.
Berlawanan dengan pendapat Pak Din, Pak Pebit, salah seorang kepala
adat di sebuah desa Dayak di pedalaman, menegaskan bahwa konsep-konsep
kerukunan dan kesetaraan harus dipertahankan dan dipelihara karena
konsep-konsep tersebut esensial bagi identitas Dayak. Sekarang, nilai
individualistik telah mulai merasuk dalam jiwa masyarakat Dayak. Hal
itulah yang membuat mereka lebih memilih untuk tinggal di rumah
individual dibanding di Rumah Betang. Hal ini disebabkan karena proses
globalisasi dan modernisasi yang masuk dalam kehidupan masyarakat Dayak,
globalisasi membuat nilai kerukunan yang tadinya menjadi ciri
masyarakat Dayak menjadi pudar dan tergantikan oleh nilai
individualistik. Padahal konsep kerukunan dan tinggal bersama di rumah
Betang dan menghindarkan ketamakan adalah nilai budaya yang esensial
bagi masyarakat Dayak, dan oleh karenanya nilai tersebut seharusnya
dipelihara dan dilestarikan.
Kepustakaan
1. Rumah Betang, Rumah Adat, dan Budaya Dayak yang Hampir
Tersingkirkan,http://fazz.wo rd p ress.co m/2 0 0 7 /0 5 /1 8/
rumah-betang-rumah-adat-dan-budaya-dayak-yang-hampir-tersingkirkan/,
diakses pada 22 Mei 2008, pukul 15.58.
2. Ibid.
3. Rumah Betang Suku Dayak di Ambang Kepunahan. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0506/15/sh12.html, diakses pada 18 Mei 2008, pukul 18.58.

KAMUDA MORENG © 2011. Design by :moreng Edited By : Anto Moreng Create : Moreng